19
Oct
10

Menanamkan Kecintaan pada Sains Melalui Olimpiade

Oleh: KARNITA

BERI aku seribu orang, maka dengan mereka aku akan menggerakkan Mahameru. Tetapi berilah aku sepuluh pemuda bersemangat, maka aku akan mengguncangkan dunia!” demikian ucapan Bung Karno di hadapan para pemuda yang disampaikan dengan berapi-api di Surabaya, tahun 1932.

Ironisnya, ekspektasi terhadap pemuda acapkali tercoreng dengan banyaknya kasus kriminalitas, penyalahgunaan narkoba, anarkisme, pergaulan bebas, dan yang lainnya. Sebuah penelitian yang dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2008 misalnya, sekitar 1,1 juta pelajar dan mahasiswa Indonesia terlibat penyalahgunaan narkoba.

Bersyukurlah, di tengah derasnya stigma negatif yang dialamatkan pada pelajar masih ada beberapa kabar yang menggembirakan. Dalam buku Belajar dari Para Sang Juara Olimpiade (2009) disebutkan prestasi pelajar Indonesia yang telah mengibarkan bendera merah putih di forum internasional. Para sang juara itu antara lain, Anas Maulidi Utama yang meraih penghargaan medali perak International Olympiad on Astronomy and Astrophysics (IOAA) di Italia tahun 2008; Anugerah Erlaut (Bidang Biologi), peraih medali emas Mostrac International Science Technology Exhibition (MISTE), di Nova Hamburgo-Brasil tahun 2008; Kevin Winata meraih medali emas pada International Physics Olympiad (IPhO) tahun 2008 di Hanoi-Vietnam; M. Ironnanda Kurnia Jabbar (Bodang Komputer) peraih medali emas dalam ajang Monstratec International Science Techonology Exhibition (ISTE)-Nova Hamburgo-Brasil. Dia juga meraih medali emas pada ajang International Computer Project Olympiad (ICPO)-Turkmenistan tahun 2008; Setyo Budi Premiaji W. (Bidang Biologi) meraih medali emas dalam INEPO (International Environmental Project Olympiad) EUROASIA 2008 di Baku, Azerbaijan; Tyas Kosasih meraih medali perunggu pada International Physics Olympiad (IPhO) 2008, Hanoi-Vietnam; Yoseph (Bidang Matematika) meraih medali emas pada kompetisi International Young Project Olympiad (IYIPO) pada tahun 2007 Ivan Gozali meraih medali perak Asian Physics Olympiad (IPhO) di Shanghai-Cina.

Dalam ajang International Conference of Young Scientist (ISYC) 2009 yang dihelat di Polandia, Indonesia berhasil meraih enam medali emas, satu perak, dan tiga perunggu. Prestasi tersebut mengantarkan Indonesia sebagai peserta terbanyak meraih emas, mengalahkan tim kuat dari negara maju, seperti Jerman, Belanda, dan AS. Sungguh betapa membanggakan bagi bangsa Indonesia.

Olimpiade Sains Nasional (OSN) merupakan agenda tahunan pendidikan nasional yang dipandang urgen dan strategis. Ajang bergengsi para pelajar setanah air tersebut melibatkan pelajar SD, SMP, dan SMA. Tahun 2005-2006, Presiden SBY mencanangkan sebagai tahun sains, meskipun hasilnya masih jauh panggang dari api. Kini OSN 2010 tengah berlangsung. Seleksi di tingkat sekolah dan wilayah telah berlangsung. Mereka sedang H2C, harap-harap cemas, menantikan hasilnya. Event tersebut sejujurnya telah menghembuskan virus semangat dan kultur mencintai sains yang diharapkan dapat memajukan peradaban bangsa. Guru dan siswa penuh antusias mempelajari berbagai materi olimpiade di luar jam pelajaran. Sayang sekali, perhelatan tersebut ruang lingkunya masih terbatas pada mata pelajaran fisika (IFO), kimia (ICO), matematika (IMO), biologi (IBO), ekonomi, astronomi, TIK, dan kebumian. Lagi pula ajang-ajang sejenis itu sangat minim. Padahal, para siswa saat ini sangat membutuhkan “virus-virus” semangat belajar yang menjalar lebih luas, gencar, dan berkesinambungan.

Perhelatan tersebut memberikan banyak manfaat antara lain dari (1) sudut pemetaan prestasi dan perbaikan disparitas pendidikan antardaerah; (2) penguatan rasa persatuan dan kesatuan bangsa yang cenderung mengalami erosi; (3) jalan untuk meretas dan memupuk kecintaan pada dunia sains yang dapat memberikan kemaslahatan bagi bangsa; dan (4) memupuk semangat belajar dan kultur kompetisi dalam belajar dan kehidupan.

Semangat belajar dan kompetisi memang harus terus digelorakan kepada siswa, sebab hidup pada hakikatnya adalah kompetisi dan perjuangan. Dalam kompetisi tersebut, siapa yang bisa survive adalah mereka yang terbaik. Realitas tersebut sudah ditegaskan Allah SWT dalam Alquran, “…supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya….” (Q.S. Al Mulk: 2).

Menurut para psikolog, masa usia remaja merupakan masa yang penuh masalah, transisi, penuh gejolak, penuh risiko (secara psikologis), over energi, dan lain sebagainya yang disebabkan oleh aktifnya hormon-hormon tertentu. Di sinilah peranan virus semangat berkompetisi belajar sangat diperlukan di tengah potret deksripsi belajar pelajar yang kurang menggembirakan. Indikator rendahnya kultur kompetisi belajar, rendahnya animo belajar, kurang kemandirian belajar, lemahnya daya juang belajar, inkonsistensi belajar, malas sekolah, rendahnya prestasi, belajar sistem kebut semalam, dan jarangnya belajar di rumah masih merupakan sesuatu hal yang benar adanya. Memang banyak faktor penyebabnya, antara lain sepinya ajang kompetisi yang dapat memicu dan memacu belajar.

Berkenaan dengan faktor yang terakhir tersebut, ajang kompetisi sepatutnya menjadi perhatian kita. Virus belajar sains dan kompetisi diharapkan akan melahirkan jiwa-jiwa yang mandiri, rasa ingin tahu, kerja keras, kreatif, semangat, sportif, kuat, dan tangguh. Hal demikian sangat dibutuhkan oleh pelajar yang akan menghadapi tantangan lebih berat. Mereka membutuhkan penggemblengan ujian dan kompetisi untuk mempersiapkan masa depannya. Sementara itu, pada usia remaja dibutuhkan aktualisasi diri, pengakuan dari kelompok, menunjukkan identitas diri, dan kemandirian. Melalui inilah diharapkan semangatnya tumbuh subur.

Para guru di sekolah hendaknya dapat memetik pelajaran dari ajang olimpiade. Beberapa hal kiranya dapat kita lakukan. Setiap guru dapat memulai menciptakan semangat berkompetisi pada setiap pembelajaran di kelasnya. Pihak sekolah memprakarsai penyelenggaraan kompetisi/olimpiade di sekolahnya setiap akhir semester untuk semua pelajaran atau ekstrakurikuler. Dapat pula apresiasi diberikan kepada para siswa yang paling tinggi kehadirannya, paling rajin ke perpustakaan, paling berdisiplin dalam tata tertib sekolah, dll.

Kompetisi akademis maupun nonakademis idealnya tidak hanya diselenggarakan oleh sekolah dan Dinas Pendidikan. Akan tetapi, sangat baik juga dilakukan oleh berbagai instansi lain seperti PT, LSM, industri, organisasi, perbankan, dan masyarakat. Ini merupakan manifestasi dukungan dalam menumbuhkan semangat berkompetisi yang akan bermuara pada peningkatan SDM.

Berkompetisi diharapkan dapat memupuk mental juara, berdaya juang tinggi, dan optimis. Sifat-sifat demikian sangat dibutuhkan oleh generasi muda dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin berat dan kompleks. Menyelenggarakan dan mengikutsertakan lomba kegiatan memang membutuhkan dana yang tidak sedikit. Namun manfaat yang akan diperolehnya jauh melampaui jumlah nominal yang dikeluarkan. Demikian juga, prestasi dan prestise memang perlu, tetapi lebih diperlukan lagi virus semangat yang terus tumbuh subur dalam diri siswa.

Olimpiade Sains Naional boleh saja berlalu, tapi virus semangat berkompetisi tidak boleh padam. Sirnanya virus semangat berkompetisi merupakan malapetaka bagi masa depan generasi mendatang. (Penulis, guru SMAN 13 Bandung)**

19
Oct
10

Takut Jadi Berani, Keras Kepala Jadi Setia Kawan

Oleh: Adelina Savitri Lubis

KAKI Sheila gemetar, tatkala menaiki tangga. Bocah 10 tahun ini tak berani melihat ke bawah. Dia bahkan tak perduli teriakan suara ibunya yang menyemangatinya. Tiba di atas, Sheila malah menutup matanya. Kakak petugas meminta Sheila membuka matanya, si pemilik rambut ikal ini menggeleng.

Sheila bingung, karena kakak petugas memintanya untuk memilih, apakah ingin meneruskan langkahnya atau berhenti dan turun ke bawah.

Sheila terbayang wajah teman-temannya yang sudah menaiki flying fox. Tak ada ketakutan pada wajah mereka. Kawan-kawan Sheila terlihat gembira. Dia pun tak mau kalah. Sheila pasti bisa!

Flying fox dengan ketinggian 50 meter pun meluncur kencang. Anak kedua dari tiga bersaudara ini tampak menikmati permainan. “Rasanya seperti diayun-ayun, enak sekali,” adunya kepada sang ibu.

Menurut Tina (40), ibunya, sejak itu Sheila mampu mengendalikan ketakutannya terhadap ketinggian. Asalkan dia merasa aman, Sheila pun menjadi berani. Menurut Tina, jenis permainan seperti flying fox menggunakan alat pengaman tubuh yang kuat. Hal ini yang berulangkali ditegaskannya pada Sheila.

Terlepas dari itu, kata Tina, yang paling penting permainan flying fox ini menyasarkan untuk membangun kepercayaan diri. Selain itu permainan itu mampu membangun keberanian dalam diri. Secara pribadi katanya, sangat baik untuk tumbuh perkembangan jiwa sang anak.

Diungkapkan Tina, ini merupakan outbound pertama, dilakukan puterinya bersama dengan 49 anak lainnya yang berasal dari sekolah berbeda-beda. Kebetulan para ibu dari anak-anak ini, bergabung dalam satu perkumpulan arisan keluarga. Biasanya, setiap awal bulan, perkumpulan ini mengadakan kegiatan rutin kumpul-kumpul dengan seluruh keluarga. Khusus Oktober 2010, para ibu sepakat mengikuttsertakan anaknya pada kegiatan outbound.

Sayang ungkap Tina, di sekolah Sheila belum ada kegiatan outbound. Sekalipun ada, dikhusukan untuk para guru. Diakuinya, secara pribadi dia merasa tersiksa, ketika melihat puteri kecilnya ketakutan. Hati Tina pun merasa miris, bila Sheila terjatuh tiba-tiba. Sesekali Tina juga mendapati anaknya ini meringis kesakitan. Terlepas dari segalanya, Tina yakin, kegaiatan itu merupakan proses awal yang harus dilewatinya.

“Ya, kalau tidak sekarang, ya kapan lagi?” ucapnya.

Alternatif lain Ajarkan Anak

Pengalaman serupa dialami Yoga, siswa kelas V SD ini. Bocah keras kepala ini tak pernah mau berbagi dengan kawannya. Jangankan dengan kawan, bahkan dengan adiknya saja, Yoga enggan berbagi. Bukan hanya berbagi mainan, makanan atau apa pun. Agus (45), ayah Yoga berharap anak sulungnya ini bisa berubah. Setidaknya, sebelum terlambat, sebelum keras kepala Yoga menjadi batu.

Berawal dari perbincangan dengan rekan kerjanya, Agus tertarik untuk mengikutsertakan anaknya ini pada kegiatan outbound. Apalagi, menurut pengakuan rekan kerja Agus, kalau anaknya sekarang menjadi lebih disiplin.

Rekan Agus beruntung, karena kegiatan outbound diperoleh anaknya melalui sekolah. Sekolah Yoga belum pernah mengadakan kegiatan outbound. Prinsipnya, outbound tidak bisa dilakukan sendirian; harus dilakukan bersama-sama.

“Alam mengajarkan kita banyak hal. Saya percayainya. Outbound identik dengan alam, membuat saya tertarik. Mudah-mudahan itu bermanfaat untuk anak saya,” ucapnya.

Rezeki berpihak pada Agus. Rupanya, anak tunggal bosnya berulang tahun. Sesuai permintaan anaknya, sang bos merayakan pesta ulang tahun anak tunggalnya, dengan kegiatan outbound. Tentu semua anak karyawan diundang dan diajak dalam kegiatan outbound. Yoga pun tak ketinggalan.

“Selama kegiatan outbound berlangsung, saya bisa melihat wajah miris anak saya. Mungkin dia tak suka permainan itu, atau mungkin karena dia seorang anak yang manja. Saya pikir anak saya harus belajar tentang itu,” beber Agus.

Menurut pengakuan Yoga, dia sangat ketakutan ketika mengikuti permainan dalam kegiatan outbound. Katanya, tak ada yang bisa menolong dirinya, kecuali dirinya sendiri. Yoga juga mempelajari banyak hal dalam outbound. Dia memahami arti seorang kawan, termasuk juga memahami tentang keberanian.

“Waktu naik flying fox, saya takut sekali. Saya jadi malu, karena melihat anak perempuan kecil, malah berani meluncur dari atas ketinggian itu. Kalau dia bisa, kok saya tidak bisa,” ujarnya.

Agus bersyukur, apa yang diharapkannya menjadi kenyataan. Kini, Yoga berubah menjadi anak yang setia kawan. Malah kata Agus, Yoga berharap bisa mengikuti kegiatan outbound lagi.

Merian (5) lain lagi. Sejak pertama kali mengikuti kegiatan outbound, bocah perempuan ini sudah tertarik pada dunia air. Kebetulan dalam kegiatan outbound, ada sebuah permainan bernama fish games (permainan menangkap ikan). Merian langsung memasuki kolam, berusaha mengejar ikan yang berenang. Merian sempat terjatuh beberapa kali, karena tubuh ikan yang licin, sigap melepaskan diri dari pegangan Merian.

Nita (35), ibunya bilang, begitulah Merian. Dia tak mau menyerah sebelum mendapati apa yang dimauinya. Biasanya kalau sudah menyerah, anak pertama ini akan menangis dan berlari kepada ibunya.

“Saya senang melihat anak saya seperti itu. Lihat saja semangatnya. Malah boleh dibilang, ini termasuk lama dia bertahan. Biasanya dia sudah menangis loh,” ungkapnya. Menurut Nita, fish games ini mengajarkan anak mengenai dunia air, mengenai ikan dan melatih kesabaran anak terhadap sesuatu.

Masih Ada Pramuka

Terlepas dari itu Kepala Sekolah SD Negeri 55, Jalan SM Raja Medan Amplas, Hotniar Lubis mengungkapkan, prinsip dan nilai-nilai termuat dalam outbound sebetulnya tak jauh berbeda dengan prinsip yang diemban dalam pramuka. Secara pribadi, Hotniar pun bingung, mengapa outbound seolah-olah seperti sesuatu yang baru. Padahal apa yang dimiliki outbound pun, dipelajari di dalam pramuka.

“Sayang, namanya memang tidak segaul outbound,” sahutnya. Begitupun, menurut Hotniar, saat ini sudah banyak sekolah-sekolah dasar yang melakukan kegiatan outbound. Bahkan, beberapa sekolah tingkat anak-anak pun melakukan outbound sebagai satu kegiatan rutin sekolah.

Sah-sah saja,sambungnya, outbound merupakan kegiatan positif. Sama dengan pramuka juga kan? Justru menurut Hotniar, yang penting bagaimana menggalakkan pramuka kembali dalam sekolah.

“Masih ada pramuka loh, jangan lupakan itu,” pungkasnya.

Sementara di SMP Darussalam Medan, sudah tiga tahun dilaksanakan outbound untuk pengurus OSIS. Kepala SMP Darussalam Medan, Ariadi AEF menambahkan, outbound yang dilakukan untuk membentuk suatu pengurus OSIS yang benar-benar bisa bekerjasama dalam tim.

Lokasi outbound, katanya bebas dan pelatihnya dari guru dan luar. Meskipun di sekolah ada pramuka, dan ekstrakurikuler lainnya tapi outbound penting demi untuk melatih kerjasama tim dan kepribadian siswa ke depannya. “Orangtua dan yayasan setuju dengan outbound ini karena benar-benar memiliki manfaat dimana ada perbedaan siswa setelah mengikuti kegiatan ini. Sedangkan pengurus menjadikan mereka bertanggungjawab dalam berorganisasi,” katanya.

Dia melihat, banyak siswa yang tadinya tidak berani, minder dan grogi. Kini sudah berbeda, malah mereka kini berani ngomon di depan umum.

19
Oct
10

Bergames Gembira Sambil Kembangkan Potensi Diri

Oleh: Fahrin Malau

Puluhan orang berkumpul di Bukit Lawang. Mereka bukan hanya sekedar rekreasi. Mereka ingin mengikuti games yang dikemas dalam sebuah kegiatan outbound training. Berbagai tantangan dipersiapkan, harus dilalui peserta. Wajah-wajah takut,

tampak di antara peserta. Sekali-kali terdengar tawa melihat di antara peserta harus gagal dalam menyelesaikan rintangan yang dibuat. Walau gagal, tim selalu memberikan dukungan untuk dapat melalui rintangan.

“Games dikemas dalam outbound training terkesan sekedar permainan. Sesungguhnya dalam games, mampu untuk mengembangkan potensi yang dimiliki seseorang. Seperti kepemimpinan, motivasi, kerjasama dengan tim dan lain sebagainya. Untuk semua itu, games yang dikemas, harus dilakukan dengan memiliki makna dan tujuan. Ttidak sekedar permainan saja,” ungkap Penanggung Jawab Mikroskill Outbound Training, Saliman, yang ditemui di Jalan Thamrin Medan.

Karena itu lanjutnya, sejak melaksanakan outbound training untuk mahasiswa baru Mikroskill tahun 2003 lalu dengan mendatangkan motivator dari Akademi Jakarta. Pengembangan outbound training dilakukan dengan memberikan pelatihan tentang outbound training. Dia menyadari membuat outbound training tidak dapat sekedar mengandalkan pengalaman. Harus melalui suatu pelatihan yang dilakukan oleh para trainer berpengalaman. Memiliki kemampuan dalam mengembangkan motivasi, kepemimpinan dan kerjasama tim. Tanpa pelatihan yang diperoleh dari trainer berpengalaman, bagaimana mungkin orang dapat menyusun program outbound training yang baik.

“Sebelum membuat outbound training, terlebih dahulu kita memberikan pelatihan kepada tim. Dari pelatihan yang diperoleh, selanjutnya dikembangkan untuk menghasilkan outbound training sesuai yang diinginkan constumer,” jelasnya.

Pengembangan yang dilakukan, program outbound training yang dimiliki yakni pembentukkan kepemimpinan yang kuat (Strong Leadership Training). Pembentukan karakter yang baik (Character Building), pembentukkan tim yang efektif (Effective Team Building), pembentukkan dan penajaman motivasi berprestasi (Achievement Motivation Training), pembentukkan dasar-dasar milter (Military Basic Training) dan lain sebagainya.

Dia mencontohkan outbound, bertujuan untuk pembentukkan tim. Secara umum, dapat membangun suatu karakter yang kokoh dari individu. Memiliki pola pikir yang terbuka dan luas dalam pengimplementasikan suatu visi dan misi yang harus diemban.

Outbound juga membentuk wawasan, paradigma dan prilaku kerja yang efektif. Juga mampu membuat suasana kerja yang membutuhkan kesadaran pola pikir dan prilaku dealam sistem organisasi yang rapi dan tertata. Untuk mencapai tujuan, materi yang disampaikan dengan membangun paradigma baru, sesuai dengan tugas dan tanggungjawab.

Mengkhususkan Tempat Outbound

Awal-awal outbound, diperkenalkan sekitar 10 tahun lalu. Tidak banyak orang mengetahui manfaat yang diperoleh dari outbound training. Tidak banyak perusahaan, universitas, sekolah, organisasi, memberikan outbound training kepada karyawan, mahasiswa, siswa dan anggota. Alasannya karena outbound tidak lebih sebatas kegiatan hura-huran dan rekreasi.

Belakangan, perusahaan, universitas, sekolah dan organisasi, mulai melirik jasa penyelengga outbound. Program-program yang ditawarkan diarahkan untuk pengembangan potensi diri. Beberapa perusahaan, universitas, sekolah dan organisasi mulai meminta jasa untuk melakukan outbound.

Permintaan jasa outbound sejak tahun 2003, terus meningkat. Begitu juga dengan jumlah jasa outbound, terus bertambah dengan menawarkan berbagai program. Untuk menghasilkan outbound training yang berkualitas para pelaku bisnis tidak tanggung-tanggung menyediakan fasilitas yang diperlukan dengan biaya puluhan bahkan ratusan juta rupiah.

Seperti yang ditemui Adelina Lubis dari Harian Analisa, di Kampung Ladang outbound camp berlokasi di Tanjung Anom, Medan Sumatera Utara. Lahan seluas lebih kurang lima hektar dibangun Rudy Girsang. Mulanya Rudy berniat membangun rumah tempat tinggal, namun tiba-tiba pria bertubuh tinggi besar ini pun, tertarik untuk menekuni dunia bisnis outbound. Tak ada alasan khusus, katanya.

“Ah, ini hanya sekadar menikmati masa pensiun saja,” ujarnya.

“Kita tetap melayani konsumen walau sekedar bermain, melihat pemandangan. Dikhususkan bagi konsumen outbound, fasilitas yang diberikan diantaranya tempat penginapan,” terangnya.

Dalam menentukan jenis permainannya, umumnya pihak Kampung Ladang, bertanya terlebih dahulu, sasaran dan tujuan yang hendak dicapai dalam outbound oleh perusahaan. Bersifat individu, team work, leadershif dan lain sebagainya.

“Penerapan games tidak sembarangan. Masing-masing games memiliki arti dan fungsi bagi yang memainkannya,” katanya.

Sebagai contoh, outbound yang bertujuan kepada individu misalnya. Salah satu permainan yang dimainkan untuk mencapai sasaran adalah permainan high roof. Permainan berjalan di atas tali. Permainan ini mendorong seseorang untuk mengambil sebuah keputusan dan kepercayaan diri. Apakah dia mampu untuk berjalan di atas tali? Sendiri, tanpa bantuan orang lain?

“Sebelumnya kami sudah meyakinkan dan memotivasi para peserta, alat pengaman dikaitkan kepada tubuh peserta sangat aman, berstandar internasional. Terkadang membangun rasa percaya terhadap orang lain bukan hal yang mudah. Kebanyakan, para peserta masih merasa ragu dan khawatir akan terjatuh dari posisi ketinggian,’ beber Hendi.

Sebut lagi permainan flying fox. Permainan meluncur sejauh 150 meter. Sekilas memang terlihat enteng, karena hanya meluncur saja. Kebanyakan kasus yang terjadi, para peserta merasa ketakutan luar biasa. Muncullah pikiran di dalam diri, ‘iya atau tidak’. Justru ini proses yang sulit, karena kalau para peserta tidak berhasil diyakinkan, itu berarti kegagalan bagi pihak outbound.

Tidak jauh berbeda dengan GM Binge Rafting, Ade S Chandra, outbound yang mengkhususkan arung jeram mengakui dapat membentuk potensi peserta. Selain outbound yang menyajikan arung jeram juga memiliki games lainnya.

“Sebelum constumer meminta kita untuk membuat outbound, ada sejumlah pertanyaan yang diajukan. Pertanyaan untuk mengetahui maksud dan tujuan dari pelaksaan outbound,” ungkapnya.

Bila outbound yang diminta untuk senang-senang atau sebagai rekreasi, games yang dibuat untuk memberikan hiburan. Sebaliknya bila untuk mengembangkan potensi games yang dimuat ada muatan-muatan khusus.

Diakuinya, keinginan perusahaan, universitas, sekolah, organisasi membuat outbound untuk karyawan, mahasiswa dan siswa mulai cerdas. Constumer sudah menyadari outbound tidak sekedar mencari kesenangan tapi dapat memecahkan persoalan yang dihadapi perusahaan dalam hal ini peningkatan kualitas sumber daya manusia.

 

02
Jun
10

Prospek Sekolah Kejuruan

Enterpreuner kondang Tantowi yahya (49) mengatakan prospek lulusan SMK lebih bagus ketimbang lulusan SMA.”Bukan karena saya Ikon SMK saya lalu berbicara seperti ini. Tapi ini masih bisa di buktikan. Di SMK,selain mendapat pendidikan sama seperti d SMA, siswa SMK juga mendapat bekal keterampilan untuk siap bekerja. Jadi mereka punya nilai plus,”katanya kepada warta kota,sabtu(23/1).

Bila dulu SMK dipandang sebelah mata, menurut tantowi, kini justru sebaliknya. Saat ini, banyak orang tua tertarik untuk menyekolahkan anak nya ke SMK. Apalagi dewasa ini, lapangan kerja menuntut tenaga-tenaga kerja siap pakai.

“Lulusan SMA cenderung meneruskan ke perguruan tinggi. Kuliah juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Setelah lulus kuliah juga belum tentu bisa langsung kerja. Makan nya saya bilang prospek SMK lebih bagus karena siswanya di didik menjadi tenaga kerja siap pakai. Istilahnya skill full,” urai kakak kandung helmi yahya itu.

Oleh karena itu, menurut tantowy, SMK harus didukung semua pihak. Anggota fraksi partai Golkar(FPG) DPR I ni juga berharap pemerintah, melalui kementrian pendidikan nasional, bisa membina SMK. “Program-program SMK harus benar-benar bisa link dan match dengan kebutuhan pasar tenaga kerja, kalu bisa disiapkan untuk mendukung pasar kerja luar negri yang terampil, bukan hanya sebagai pembantu rumah tangga atau PRT,” Tandas bintang iklan layanan masyarakat SMK bisa ini.

Apa yang dikatakan Tantowy mirip dengan pendapat Direktur Pembinaan SMK Dirjen Pendidikan dasar dan menengah, kementrian pendidikan nasional (Kemendiknas), Joko Sutrisno. Menurut Joko, SMK bisa menjadi solusi menghadapi ASEAN-Cina Free Trade Agreement (ACFTA) atau perdagangan bebas As-SEAN-Cina yang sudah berlaku per 1 Januari 2010.

“Jangan kita lawan prosuk cina masuk, tetapi bagaimna memanfaatkan produk cina untuk meningkatkan advantage melalui pengembangan SMK” katanya di sebuah kegiatan di Mataram, NTB, Sabtu (23/1), seperti di kutip d Antara.

Masuknya produk cina dinilai mengancam industry dalam negri karena produk dalam negri belum sepadan dengan produk dari negri tirai bamboo tersebut.”Kita memang tidak bisa mengalahkan produk c ina terutama produk Manufactur. Kita masih perlu berguru ke negri tersebut”, Ujarnya.

Namun kondisi tersebut juga bisa di tangkap sebagai kesempatan untuk menciptakan SMK sebagai solusi dalam menghadapi persaingan pasar bebas tersebut. Caranya adalah menjalin kerja sama dengan perusahaan-perusahaan besar di luar negri termasuk Cina. Kerjasama tersebut bisa bentuk perjanjian pembelian suku cadang atau bahan baku untuk kemudian dilakukan produksi barang jadinya di Indonesia dengan melibatkan SMK.

Dengan demikian, SMK bisa mengambil margin keuntungan dari mitra industrinya.”Model seperti ini akan coba kita terapkan sampai pada akhirnya SMK mampu memproduksi suku cadang atu bahan baku yang kita datangkan dari luar negri itu,”.

http://prudentschool.sch.id

02
Jun
10

LULUSAN SMK HARUS PUNYA NILAI PLUS

Akhir-akhir ini sering kita mendengar iklan layanan Pemerintah di radio dan televisi mengkampanyekan agar para pelajar lulusan SMP untuk masuk sekolah menengah kejuruan atau SMK. Berbagai keunggulan SMK ditonjolkan untuk menarik para pelajar SMP dan orangtuanya untuk melanjutkan pendidikan sekolah menengah atas di SMK. Memang diakui dengan masuk SMK, para pelajar selain mendapat pelajaran umum seperti di sekolah menengah umum, juga mendapat ilmu keterampilan khusus sesuai dengan minat dan kemampuan masing-masing. Namun jika melihat di bidang prestasi akademik, pelajar-pelajar SMK masih tertinggal bila dibandingkan prestasi-prestasi akademik pelajar-pelajar SMU. Sehingga umumnya dalam pandangan masyarakat masih menganggap menyekolahkan anaknya di SMU lebih terjamin prestasi akademiknya daripada disekolahkan di SMK. Walaupun SMK mempunyai tambahan keterampilan khusus, banyak masyarakat berpandangan belum menganggap penting tambahan keterampilan plus tersebut. Namun nampaknya pandangan ini akan segera berubah karena SMK diprioritaskan Pemerintah untuk lebih dikembangkan dan diperbanyak jumlahnya dibandingkan dengan SMA. Sehingga diharapkan prestasi pelajar-pelajar SMK akan semakin baik dalam kompetensi akademik maupun kompetensi keterampilan kerja.

Pemerintah menargetkan tahun 2015, perbandingan jumlah sekolah menengah kejuruan (SMK) dan sekolah menengah atas (SMA) di Indonesia mencapai 70 persen banding 30 persen. Kebijakan tersebut dilatarbelakangi kenyataan komposisi tenaga kerja Indonesia mayoritas unskill workers (pekerja yang tidak punya skill atau kompetensi di bidangnya). Lulusan SMA memang diproyeksikan untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, namun ditengarai lulusan SMA selama ini banyak yang mencari pekerjaan, karena hanya 30% saja yang mampu melanjutkan studi ke perguruan tinggi, sementara yang 70% harus bekerja meskipun tanpa bekal keterampilan yang memadai. Menurut data Badan Statistik Nasional (BPS) tahun 2006, ada 81,1 juta tenaga kerja Indonesia diisi kelompok unskill workers (pekerja yang tidak punya skill atau kompetensi di bidangnya). Kelompok unskill workers ini mayoritas adalah lulusan SMA. Sedangkan kelompok di atasnya diisi skill workers (pekerja dengan skill atau kompetensi dibidangnya) sebesar 20,4 juta orang. Serta komposisi teratas merupakan pekerja expert (ahli) dengan 4,8 juta orang. Kebijakan Pemerintah memperbanyak jumlah SMK dibanding jumlah SMA ini, selain untuk mengatasi pengangguran, juga dalam jangka panjang untuk mempersiapkan daya saing di era perdagangan bebas/globalisasi yang akan segera diberlakukan. Dalam era perdagangan bebas, selain kualitas tenaga kerja yang akan bersaing ketat, institusi pendidikannya pun akan bersaing ketat pula dengan institusi pendidikan luar negeri. Oleh karena itu, institusi pendidikan di Indonesia harus dipersiapkan pula untuk dapat berkompetisi dengan institusi pendidikan luar negeri agar pasar pendidikan tidak didominasi oleh asing dan dapat menghasilkan output tenaga kerja yang berkualitas dan berdaya saing internasional. Pemerintah pun memprioritaskan pengembangan SMK secara bertahap hingga mutu dan kualitasnya berstandar internasional.

Tingkat persaingan yang semakin ketat saat diberlakukannya perdagangan bebas, mengharuskan para pelajar SMK memiliki nilai plus yang lebih plus (plus+plus) dari kondisi pelajar SMK sekarang. Nilai plus tersebut antara lain keterampilan kerja khusus yang ditekuni lebih mendalam lagi dengan tidak mengenyampingkan peningkatan prestasi akademik. Selain itu, kemampuan pelajar SMK juga ditunjang dengan pelatihan pematangan mental yang prima. Sehingga dalam menghadapi dunia kerja, para pelajar sudah pintar, ahli, matang, dan siap bekerja keras. Tantangan dunia kerja yang semakin sulit mengharuskan para pelajar SMK memiliki strategi khusus untuk meningkatkan kemampuannya dalam bidang prestasi akademik maupun prestasi penguasaan keterampilan kerja khusus kejuruan. Setiap individu yang menginginkan kesuksesan, hendaknya memiliki ciri khas tersendiri pada kemampuan kerjanya. Hal itu bisa diperoleh jika individu tersebut kreatif, inovatif, dan pantang menyerah dalam belajar sesuatu yang baru serta berani menerima tantangan kemampuan belajar dan bekerja.

Penguasaan bahasa asing mutlak diperlukan untuk dapat bersaing di pasar Internasional. Bagi para pelajar SMK, penguasaan bahasa asing wajib dimiliki dalam menunjang performa (kualitas) kerja dan kuantitas hasil pekerjaan yang baik. Oleh karena itu, sejak dini para pelajar SMK mempersiapkan kemampuan bahasa asing mereka untuk dapat bersaing dengan tenaga-tenaga kerja asing yang akan masuk ke Indonesia. Bahasa asing yang mutlak dikuasai pun tidak hanya bahasa Inggris namun juga bahasa-bahasa asing lain yang memiliki prospek industri yang sangat baik seperti bahasa Jepang, Jerman, Italia, China(Mandarin), Korea, dan lain sebagainya.

Kini saatnya, para pelajar SMK harus bangkit untuk maju. Tidak hanya demi masa depan mereka sendiri namun juga demi harga diri bangsa dan Negara Indonesia. Para pelajar SMK di Indonesia harus plus + plus, artinya selain memiliki prestasi akademik yang bagus, juga memiliki keterampilan yang berkualitas baik, serta memiliki ciri khas kemampuan kerja yang profesional dengan mental matang ditunjang wawasan luas, plus penguasaan bahasa asing yang unggul. Dengan demikian, lulusan SMK yang plus+plus akan lebih siap bersaing di pasar bebas internasional yang akan segera dijelang pemberlakuannya.

Bukan hal yang mudah memang untuk menjadi tenaga kerja unggulan di pasar kerja internasional. Namun hal tersebut bukanlah hal yang mustahil bagi para pelajar SMK. Apalagi jika nantinya lulusan SMK yang sudah plus+plus dapat melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi lagi, bahkan jika dapat melanjutkan pendidikan ke luar negeri, lulusan SMK ini plusnya jadi bertambah menjadi 4 plus atau bahkan 5 plus. Artinya, harga jasa keahlian yang diberikannya pun akan semakin tinggi pula di pasar kerja internasional. Jadi, bagi para pelajar SMK, segera persiapkan diri untuk menjadi pemenang era globalisasi saat ini dan di masa yang akan datang.Ok!

http://smkn36jakarta.sch.id

30
Apr
10

Baseline Social Research * Internet * Social Issues * Software * Statistics * Journey Apr 15 Lulusan SMK Lebih Mudah Dapat Kerja

Pada tahun 2006, berdasarkan data SUSENAS 2006 penduduk usia produktif 20-54 tahun yang berpendidikan terakhir SMA sederjat (SMA/SMK/MA) sekitar 25.2% dimana di daerah perkotaan lebih banyak lulusan SMA sederajat dibandingkan pedesaan.

Ditinjau dari kacamata dunia kerja, lulusan SMA sederajat ini sebagian besar bekerja sebagai buruh/karyawan. Artikel singkat ini akan sedikit mengulas perbedaan lulusan SMA, SMK dan Madrasah Aliyah (MA)  dalam dunia kerja. Secara keseluruhan, 17.9% penduduk usia 20-54 tahun merupakan lulusan SMA, 5.9% lulusan SMK dan 1.3% lulusan MA. Cukup masuk akal karena jenis sekolah pendidikan SMU lebih banyak dibandingkan kedua jenis sekolah atas lainnya.

Namun begitu, lulusan SMK ternyata lebih mudah mendapatkan pekerjaan (70.1%) dibandingkan SMA (60.2%) atau MA (60.5%), dan yang menarik lulusan SMA dan MA mempunyai kesempatan bekerja yang sama. Sebagian besar lulusan SMA sederajat bekerja sebagai buruh/karyawan, dimana lulusan SMK (44.3%) lebih besar dibandingkan SMA (32.6%) dan yang paling rendah adalah MA (23.3%). Kurikulum pendidikan SMK yang memang ditujukan untuk mengasah kemampuan ketrampilan dunia kerja ternyata berpengaruh dalam kemudahan mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Baik di Perkotaan maupun Pedesaan kondisinya tidak berbeda banyak.

Lulusan SMA yang termasuk bukan angkatan kerja (sekolah atau urus rumah tangga) banyak terdapat di perkotaan (30.4%) dibadingkan dengan pedesaan (22.6%), begitu juga dengan lulusan MA. Sedangkan untuk lulusan SMK tidak ada perbedaan antar kota-desa, tetapi lulusan SMK yang bukan angkatan kerja ternyata lebih rendah (17.4%) dibandingkan SMA (28.1%) atay MA (27%).

Jadi jika ada anak SMA atau MA yang tidak mau melanjutkan sekolah lebih tinggi maka kesempatan untuk mendapatkan kerja lebih kecil dibandingkan dengan lulusan SMK yang memang lebih ditonjolkan dalam pendidikan ketrampilan yang bisa diaplikasikan dalam dunia kerja.

Informasi Sumber Data

Sumber: Susenas 2006 BPS. Penduduk yang masuk dalam studi ini adalah penduduk Indonesia usia 20-54 tahun yang mempunyai ijazah terakahir SMA atau SMK atau Madrasah Aliyah. Angkatan Kerja adalah penduduk yang selama seminggu sebelum survei sedang bekerja atau bekerja tetapi sedang libur atau sedang mencari pekerjaan atau sedang mempersiapkan usaha, termasuk penduduk yang sudah menyerah mencari kerja atau sudah diterima kerja tetapi belum mulai kerja.

sumber : http://andi.stk31.com/lulusan-smk-lebih-mudah-dapat-kerja.html

30
Apr
10

Materi SMK Multimedia

Berikut adalah materi dan tutorial untuk SMK jurusan Multimedia :

Sesuai dengan KTSP 2006.

1. Teknik Penyiaran Dan Produksi Program TV, Film, Radio Jilid 1.pdf
2. Teknik Penyiaran Dan Produksi Program TV, Film, Radio Jilid 2.pdf
3. Alur Produksi Broadcast.pdf
4. Animasi Komputer.doc
5. Blog.pdf
6. Etimologi Multimedia
7. Animasi Komputer.doc
8. Broadcast news.pdf
9. Kesehatan, keselamatan dan keamanan kerja
10. Lensa, Teknologi Lensa
11. Major graphic file formats.pdf
12. Menulis Program TV.pdf
13. Membuat Narasi
14. Pengenalan Multimedia
15. Adobe Premiere Pro (Menyunting Video)
16. Pengantar Multimedia
17. Teks, Gambar dan Grafis
18. Suara dan Audio
19. Video
20. Animation.pdf
21. Adobe Photoshop CS
22. Web Design
23. Storage Media
24. Setup dan Pengoperasian Video Dasar
25. Menyunting Suara.pdf

Kurikulum

1. Jadwal Kurikulum Multimedia
2. RPP Dasar-dasar Multimedia
3. Silabus Multimedia




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.