16
Feb
10

Indahnya Kebinekaan Indonesia

pengenalan internet Kepala Sekolah

Sejak Jumat petang (12/2) pesan Gong Xi Fa Cai mengalir ke akun Facebook, Blackberry, maupun telepon seluler saya hingga mencapai puncaknya Sabtu malam (13/2) dan Minggu pagi (14/2). Pesan-pesan tersebut dikirim oleh sahabat dan kerabat tak hanya dari berbagai penjuru Indonesia, tetapi juga dari berbagai latar belakang. Baik dari yang secara lahiriah tergolong suku Tionghoa maupun mereka yang secara lahiriah tergolong suku Jawa, Batak, Ambon, Aceh, Bugis, dan lain-lain. Demikian juga dari pemeluk lain agama.

Walau demikian, tidak sedikit pula yang mengakui tidak paham benar apa makna Gong Xi Fa Cai. Namun, hal itu tidak menjadi hambatan untuk menyampaikan ucapan ”Selamat Tahun Baru Imlek, Gong Xi Fa Cai”.

Suasana Imlek semasa Orba.

Keakraban sosial ini tidak pernah dinikmati selama tiga dasawarsa pemerintahan Orde Baru (Orba). Selama masa itu merupakan suatu tabu untuk merayakan Imlek. Bahkan, segala sesuatu yang berkonotasi Tiongkok dipersepsikan sebagai suatu dosa besar.

Saya masih beruntung merasakan suasana Tahun Baru Imlek sebelum Orba berkuasa dan selama bersekolah di Singapura. Ketika di Singapura, saya hanya dapat membayangkan apakah warga Tionghoa di Indonesia akan pernah mendapatkan kesempatan merayakan Imlek lagi.

Kebijakan pemerintahan Soeharto adalah untuk memenggal habis ikatan kultural warga Tionghoa dengan tradisi dan budaya leluhurnya. Jangankan untuk menggelar barongsai dan liong, bahkan untuk melakukan ritual keluarga yang paling sederhana saja nyaris tidak mungkin.

Di tengah kekangan itu, warga Tionghoa tetap merayakan Imlek kendati secara sembunyi-sembunyi. Mereka tidak berani meliburkan toko/perusahaannya saat Imlek. Tidak ada pernik-pernik yang lazim menghiasi hari raya. Namun, semangat dan substansi menyambut Imlek tetap berlangsung dalam bentuk saling mengunjungi, bersilaturahmi, dengan sanak saudara.

Itu bukan berarti pemerintah saat itu tidak tahu atau membiarkan. Saya ingat persis pada akhir 1980-an hingga tumbangnya Orde Baru, tepat pada hari Imlek, Kadit Sospol Pemprov Jateng selalu mengundang kami yang tergabung dalam Bakom PKB (Badan Komunikasi Penghayatan Kesatuan Bangsa) untuk ”rapat mendadak”.  Biasanya sekitar jam 9 pagi kami ditelepon untuk hadir rapat jam 13 siangnya. Padahal, setelah hadir, ternyata tidak ada materi-materi yang bersifat mendesak yang mengharuskan dibahas dan diambil keputusan saat itu juga. Tentunya ”rapat-rapat” tersebut mencabut kami dari acara keluarga dan merupakan salah satu instrumen Kadit Sospol untuk mengukur siapa saja pengurus yang ikatan kultural Tionghoanya masih kuat dan siapa yang tidak.

Tentunya saya dan teman-teman dapat menyikapi keadaan seperti itu secara realistis. Tetap menghadiri ”rapat-rapat” dan merelakan mempersingkat acara dengan keluarga.

Selama masa tersebut, Imlek dirayakan hanya dalam bentuk Pai (menyampaikan hormat dan mohon pengampunan) kepada orang tua. Tidak jauh berbeda dengan tradisi sungkeman etnis Jawa. Sedangkan acara silaturahmi dengan sanak saudara luas tidak selalu dapat dilaksanakan. Peluang untuk sanak-saudara untuk saling mengunjungi sangat terbatas karena tidak adanya libur sehingga waktu sangat terbatas.

Berkah Reformasi

Pasca lengsernya Orba, di Jateng kali pertama digelar di Solo dalam rangka deklarasi lahirnya Partai Amanat Nasional (PAN) Jateng. Setelah itu, secara beruntun atraksi barongsai memeriahkan deklarasi pembentukan PAN diberbagai kota dan kabupaten di Jateng. Saat itu saya merasakan haru dan gembira. Tak pernah terbayangkan saya akan dapat melihat barongsai dan liong digelar di Indonesia lagi dalam masa hidup saya. Namun, gerakan reformasi telah mengubah tatanan sosial dan mengembalikan ruang kepada setiap warga negara Indonesia untuk melestarikan adat, budaya, dan tradisi sukunya.

Sejak saat itu, walaupun pemerintah belum secara resmi menetapkan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional, warga Tionghoa sudah tidak lagi takut merayakan dan melaksanakan ritual Imlek bersama keluarga.

Tradisi saling berkunjung, bersilaturahmi, dengan sanak saudara kembali dapat dilaksanakan tanpa rasa takut. Bahkan, pernik-pernik seperti lampion dan hiasan lain secara perlahan kembali muncul diperdagangkan secara terbuka.

Suatu fenomena yang sangat menarik adalah ternyata pergelaran barongsai dan liong sekarang tidak lagi hanya dimainkan warga Tionghoa. Seperti halnya dengan kesenian wayang yang tidak hanya dimainkan oleh etnis Jawa atau Sunda.

Demikian juga, Pasar Imlek yang kembali digelar di kawasan Pecinan Semarang setelah absen beberapa dasa warsa, dimeriahkan oleh pedagang multietnis. Semua berbaur, berdagang bersama, meraup rezeki dari perayaan Imlek.

Namun, pada awal 2000-an, saya sempat khawatir jangan-jangan euforia perayaan Imlek menjadi kebablasan. Pergelaran barongsai yang diarak keliling kota terjadi sedemikian sering sehingga kadang justru menimbulkan kejenuhan dan kadang juga menimbulkan gangguan terhadap arus lalu lintas. Kecenderungan perayaan yang berlebihan tersebut merupakan suatu luapan kegembiraan atas kembalinya kebebasan yang sempat puluhan tahun hilang.

Untungnya keseimbangan cepat tercapai dan perayaan Imlek kembali ke taraf yang wajar tanpa menimbulkan ekses yang dikhawatirkan.

Ritual Utama

Perayaan Imlek dimulai pada malam menjelang pergantian tahun selama 15 hari. Pada malam pergantian tahun, acara utama adalah makan malam bersama. Itu merupakan peristiwa penting sehingga para anak yang sudah berkeluarga dan tinggal terpisah dari orang tua memprioritaskan untuk dapat hadir makan malam bersama orang tua sekaligus reuni dengan kakak-adiknya.

Acara pokok pada malam pergantian tahun adalah berdoa untuk para moyang pendahulu. Doa dipanjatkan sesuai dengan agama masing-masing. Nawa ritual itu adalah agar generasi muda tidak melupakan jasa-jasa para pendahulu. Sebab, tanpa jasa para pendahulu tidak akan ada kita di muka bumi saat ini.

Acara dilanjutkan pada pagi pertama tahun baru bahwa yang muda datang dan melakukan pai kepada eyang, orang tua, dan kakak-kakak. Pada ritual tersebut yang muda mohon maaf atas khilaf mereka dan juga mohon doa restu dari mereka yang lebih tua. Sebaliknya, mereka yang lebih tua mendoakan kebaikan dan memberikan restu mereka kepada yang lebih muda, ditandai dengan pemberian angpao (amplop merah) sebagai simbol rezeki yang lancar. Angpao hanya diberikan kepada anak-anak dan mereka yang belum menikah.

Setelah acara dengan keluarga inti, kaum muda melanjutkan kunjungan kepada paman dan bibi dengan subtansi acara serupa. Melalui anjangsana itulah sanak saudara saling mengikuti perkembangan masing-masing keluarga. Saling mengenal menantu baru, cucu baru, dan sebagainya sehingga terjalin silaturahmi yang lebih erat.

Indahnya Kebinekaan

Tentunya pembaca sudah sering mendengar ”lontong cap go meh”. Cap go meh bermakna ”malam kelima belas”, yaitu akhir dari masa perayaan Tahun Baru Imlek. Lontong bukanlah makanan tradisional suku Tionghoa, tetapi merupakan perpaduan budaya Jawa dengan Tionghoa. Bagaimana sejarah lahirnya lontong cap go meh dan sejak kapan tradisi itu muncul, biarlah para ahli sejarah dan kebudayaan yang menguraikan.

Di balik sajian khas itu, terkandung penegasan bahwa suku Tionghoa sejak lama menyatu dengan adat, tradisi, dan nilai-nilai penduduk setempat di bumi Nusantara.

Demikian juga, adat-adat peranakan yang sebagian kaum Tionghoa sejak dulu sudah mengenakan sarung dan kebaya.

Sungguh indah dan bahagia ketika saya menerima ucapan Selamat Tahun Baru Imlek dari kawan-kawan yang dari etnis lain serta umat berbagai agama. Bahkan, sebagian menyempatkan setiap tahun mengirimkan bingkisan kepada saya. Sebagaimana saya juga tidak lupa menyampaikan Selamat Idul Fitri kepada sahabat-sahabat saya yang beragama Islam, Selamat Tahun Baru Saka kepada sahabat-sahabat saya yang dari Bali, serta Selamat Natal kepada sahabat-sahabat Nasrani.

Kebahagiaan seperti itulah yang selalu mengingatkan saya betapa indahnya kebinekaan di Indonesia. Walau terdiri atas berbagai etnis dan umat berbagai agama, kita menghormati dan menghargai nilai-nilai satu sama lain.

Kebahagiaan yang sempat sirna selama beberapa dasa warsa kini telah kembali dapat dinikmati kita sebagai bangsa Indonesia. Tentunya pembauran multietnis- multiagama menjadi satu bangsa Indonesia merupakan kekuatan dan kekayaan Indonesia yang patut kita syukuri, banggakan, dan lestarikan.

Gong Xi Fa Cai (mendoakan kelancaran rezeki) dan Wan She Ru Yi (semoga semua rencana dan cita-cita dapat terwujud dan terlaksana).(*/agm)

Sumber : http://www.jawapos.co.id


0 Responses to “Indahnya Kebinekaan Indonesia”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: