19
Oct
10

Menanamkan Kecintaan pada Sains Melalui Olimpiade

Oleh: KARNITA

BERI aku seribu orang, maka dengan mereka aku akan menggerakkan Mahameru. Tetapi berilah aku sepuluh pemuda bersemangat, maka aku akan mengguncangkan dunia!” demikian ucapan Bung Karno di hadapan para pemuda yang disampaikan dengan berapi-api di Surabaya, tahun 1932.

Ironisnya, ekspektasi terhadap pemuda acapkali tercoreng dengan banyaknya kasus kriminalitas, penyalahgunaan narkoba, anarkisme, pergaulan bebas, dan yang lainnya. Sebuah penelitian yang dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2008 misalnya, sekitar 1,1 juta pelajar dan mahasiswa Indonesia terlibat penyalahgunaan narkoba.

Bersyukurlah, di tengah derasnya stigma negatif yang dialamatkan pada pelajar masih ada beberapa kabar yang menggembirakan. Dalam buku Belajar dari Para Sang Juara Olimpiade (2009) disebutkan prestasi pelajar Indonesia yang telah mengibarkan bendera merah putih di forum internasional. Para sang juara itu antara lain, Anas Maulidi Utama yang meraih penghargaan medali perak International Olympiad on Astronomy and Astrophysics (IOAA) di Italia tahun 2008; Anugerah Erlaut (Bidang Biologi), peraih medali emas Mostrac International Science Technology Exhibition (MISTE), di Nova Hamburgo-Brasil tahun 2008; Kevin Winata meraih medali emas pada International Physics Olympiad (IPhO) tahun 2008 di Hanoi-Vietnam; M. Ironnanda Kurnia Jabbar (Bodang Komputer) peraih medali emas dalam ajang Monstratec International Science Techonology Exhibition (ISTE)-Nova Hamburgo-Brasil. Dia juga meraih medali emas pada ajang International Computer Project Olympiad (ICPO)-Turkmenistan tahun 2008; Setyo Budi Premiaji W. (Bidang Biologi) meraih medali emas dalam INEPO (International Environmental Project Olympiad) EUROASIA 2008 di Baku, Azerbaijan; Tyas Kosasih meraih medali perunggu pada International Physics Olympiad (IPhO) 2008, Hanoi-Vietnam; Yoseph (Bidang Matematika) meraih medali emas pada kompetisi International Young Project Olympiad (IYIPO) pada tahun 2007 Ivan Gozali meraih medali perak Asian Physics Olympiad (IPhO) di Shanghai-Cina.

Dalam ajang International Conference of Young Scientist (ISYC) 2009 yang dihelat di Polandia, Indonesia berhasil meraih enam medali emas, satu perak, dan tiga perunggu. Prestasi tersebut mengantarkan Indonesia sebagai peserta terbanyak meraih emas, mengalahkan tim kuat dari negara maju, seperti Jerman, Belanda, dan AS. Sungguh betapa membanggakan bagi bangsa Indonesia.

Olimpiade Sains Nasional (OSN) merupakan agenda tahunan pendidikan nasional yang dipandang urgen dan strategis. Ajang bergengsi para pelajar setanah air tersebut melibatkan pelajar SD, SMP, dan SMA. Tahun 2005-2006, Presiden SBY mencanangkan sebagai tahun sains, meskipun hasilnya masih jauh panggang dari api. Kini OSN 2010 tengah berlangsung. Seleksi di tingkat sekolah dan wilayah telah berlangsung. Mereka sedang H2C, harap-harap cemas, menantikan hasilnya. Event tersebut sejujurnya telah menghembuskan virus semangat dan kultur mencintai sains yang diharapkan dapat memajukan peradaban bangsa. Guru dan siswa penuh antusias mempelajari berbagai materi olimpiade di luar jam pelajaran. Sayang sekali, perhelatan tersebut ruang lingkunya masih terbatas pada mata pelajaran fisika (IFO), kimia (ICO), matematika (IMO), biologi (IBO), ekonomi, astronomi, TIK, dan kebumian. Lagi pula ajang-ajang sejenis itu sangat minim. Padahal, para siswa saat ini sangat membutuhkan “virus-virus” semangat belajar yang menjalar lebih luas, gencar, dan berkesinambungan.

Perhelatan tersebut memberikan banyak manfaat antara lain dari (1) sudut pemetaan prestasi dan perbaikan disparitas pendidikan antardaerah; (2) penguatan rasa persatuan dan kesatuan bangsa yang cenderung mengalami erosi; (3) jalan untuk meretas dan memupuk kecintaan pada dunia sains yang dapat memberikan kemaslahatan bagi bangsa; dan (4) memupuk semangat belajar dan kultur kompetisi dalam belajar dan kehidupan.

Semangat belajar dan kompetisi memang harus terus digelorakan kepada siswa, sebab hidup pada hakikatnya adalah kompetisi dan perjuangan. Dalam kompetisi tersebut, siapa yang bisa survive adalah mereka yang terbaik. Realitas tersebut sudah ditegaskan Allah SWT dalam Alquran, “…supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya….” (Q.S. Al Mulk: 2).

Menurut para psikolog, masa usia remaja merupakan masa yang penuh masalah, transisi, penuh gejolak, penuh risiko (secara psikologis), over energi, dan lain sebagainya yang disebabkan oleh aktifnya hormon-hormon tertentu. Di sinilah peranan virus semangat berkompetisi belajar sangat diperlukan di tengah potret deksripsi belajar pelajar yang kurang menggembirakan. Indikator rendahnya kultur kompetisi belajar, rendahnya animo belajar, kurang kemandirian belajar, lemahnya daya juang belajar, inkonsistensi belajar, malas sekolah, rendahnya prestasi, belajar sistem kebut semalam, dan jarangnya belajar di rumah masih merupakan sesuatu hal yang benar adanya. Memang banyak faktor penyebabnya, antara lain sepinya ajang kompetisi yang dapat memicu dan memacu belajar.

Berkenaan dengan faktor yang terakhir tersebut, ajang kompetisi sepatutnya menjadi perhatian kita. Virus belajar sains dan kompetisi diharapkan akan melahirkan jiwa-jiwa yang mandiri, rasa ingin tahu, kerja keras, kreatif, semangat, sportif, kuat, dan tangguh. Hal demikian sangat dibutuhkan oleh pelajar yang akan menghadapi tantangan lebih berat. Mereka membutuhkan penggemblengan ujian dan kompetisi untuk mempersiapkan masa depannya. Sementara itu, pada usia remaja dibutuhkan aktualisasi diri, pengakuan dari kelompok, menunjukkan identitas diri, dan kemandirian. Melalui inilah diharapkan semangatnya tumbuh subur.

Para guru di sekolah hendaknya dapat memetik pelajaran dari ajang olimpiade. Beberapa hal kiranya dapat kita lakukan. Setiap guru dapat memulai menciptakan semangat berkompetisi pada setiap pembelajaran di kelasnya. Pihak sekolah memprakarsai penyelenggaraan kompetisi/olimpiade di sekolahnya setiap akhir semester untuk semua pelajaran atau ekstrakurikuler. Dapat pula apresiasi diberikan kepada para siswa yang paling tinggi kehadirannya, paling rajin ke perpustakaan, paling berdisiplin dalam tata tertib sekolah, dll.

Kompetisi akademis maupun nonakademis idealnya tidak hanya diselenggarakan oleh sekolah dan Dinas Pendidikan. Akan tetapi, sangat baik juga dilakukan oleh berbagai instansi lain seperti PT, LSM, industri, organisasi, perbankan, dan masyarakat. Ini merupakan manifestasi dukungan dalam menumbuhkan semangat berkompetisi yang akan bermuara pada peningkatan SDM.

Berkompetisi diharapkan dapat memupuk mental juara, berdaya juang tinggi, dan optimis. Sifat-sifat demikian sangat dibutuhkan oleh generasi muda dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin berat dan kompleks. Menyelenggarakan dan mengikutsertakan lomba kegiatan memang membutuhkan dana yang tidak sedikit. Namun manfaat yang akan diperolehnya jauh melampaui jumlah nominal yang dikeluarkan. Demikian juga, prestasi dan prestise memang perlu, tetapi lebih diperlukan lagi virus semangat yang terus tumbuh subur dalam diri siswa.

Olimpiade Sains Naional boleh saja berlalu, tapi virus semangat berkompetisi tidak boleh padam. Sirnanya virus semangat berkompetisi merupakan malapetaka bagi masa depan generasi mendatang. (Penulis, guru SMAN 13 Bandung)**


0 Responses to “Menanamkan Kecintaan pada Sains Melalui Olimpiade”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: