19
Oct
10

Takut Jadi Berani, Keras Kepala Jadi Setia Kawan

Oleh: Adelina Savitri Lubis

KAKI Sheila gemetar, tatkala menaiki tangga. Bocah 10 tahun ini tak berani melihat ke bawah. Dia bahkan tak perduli teriakan suara ibunya yang menyemangatinya. Tiba di atas, Sheila malah menutup matanya. Kakak petugas meminta Sheila membuka matanya, si pemilik rambut ikal ini menggeleng.

Sheila bingung, karena kakak petugas memintanya untuk memilih, apakah ingin meneruskan langkahnya atau berhenti dan turun ke bawah.

Sheila terbayang wajah teman-temannya yang sudah menaiki flying fox. Tak ada ketakutan pada wajah mereka. Kawan-kawan Sheila terlihat gembira. Dia pun tak mau kalah. Sheila pasti bisa!

Flying fox dengan ketinggian 50 meter pun meluncur kencang. Anak kedua dari tiga bersaudara ini tampak menikmati permainan. “Rasanya seperti diayun-ayun, enak sekali,” adunya kepada sang ibu.

Menurut Tina (40), ibunya, sejak itu Sheila mampu mengendalikan ketakutannya terhadap ketinggian. Asalkan dia merasa aman, Sheila pun menjadi berani. Menurut Tina, jenis permainan seperti flying fox menggunakan alat pengaman tubuh yang kuat. Hal ini yang berulangkali ditegaskannya pada Sheila.

Terlepas dari itu, kata Tina, yang paling penting permainan flying fox ini menyasarkan untuk membangun kepercayaan diri. Selain itu permainan itu mampu membangun keberanian dalam diri. Secara pribadi katanya, sangat baik untuk tumbuh perkembangan jiwa sang anak.

Diungkapkan Tina, ini merupakan outbound pertama, dilakukan puterinya bersama dengan 49 anak lainnya yang berasal dari sekolah berbeda-beda. Kebetulan para ibu dari anak-anak ini, bergabung dalam satu perkumpulan arisan keluarga. Biasanya, setiap awal bulan, perkumpulan ini mengadakan kegiatan rutin kumpul-kumpul dengan seluruh keluarga. Khusus Oktober 2010, para ibu sepakat mengikuttsertakan anaknya pada kegiatan outbound.

Sayang ungkap Tina, di sekolah Sheila belum ada kegiatan outbound. Sekalipun ada, dikhusukan untuk para guru. Diakuinya, secara pribadi dia merasa tersiksa, ketika melihat puteri kecilnya ketakutan. Hati Tina pun merasa miris, bila Sheila terjatuh tiba-tiba. Sesekali Tina juga mendapati anaknya ini meringis kesakitan. Terlepas dari segalanya, Tina yakin, kegaiatan itu merupakan proses awal yang harus dilewatinya.

“Ya, kalau tidak sekarang, ya kapan lagi?” ucapnya.

Alternatif lain Ajarkan Anak

Pengalaman serupa dialami Yoga, siswa kelas V SD ini. Bocah keras kepala ini tak pernah mau berbagi dengan kawannya. Jangankan dengan kawan, bahkan dengan adiknya saja, Yoga enggan berbagi. Bukan hanya berbagi mainan, makanan atau apa pun. Agus (45), ayah Yoga berharap anak sulungnya ini bisa berubah. Setidaknya, sebelum terlambat, sebelum keras kepala Yoga menjadi batu.

Berawal dari perbincangan dengan rekan kerjanya, Agus tertarik untuk mengikutsertakan anaknya ini pada kegiatan outbound. Apalagi, menurut pengakuan rekan kerja Agus, kalau anaknya sekarang menjadi lebih disiplin.

Rekan Agus beruntung, karena kegiatan outbound diperoleh anaknya melalui sekolah. Sekolah Yoga belum pernah mengadakan kegiatan outbound. Prinsipnya, outbound tidak bisa dilakukan sendirian; harus dilakukan bersama-sama.

“Alam mengajarkan kita banyak hal. Saya percayainya. Outbound identik dengan alam, membuat saya tertarik. Mudah-mudahan itu bermanfaat untuk anak saya,” ucapnya.

Rezeki berpihak pada Agus. Rupanya, anak tunggal bosnya berulang tahun. Sesuai permintaan anaknya, sang bos merayakan pesta ulang tahun anak tunggalnya, dengan kegiatan outbound. Tentu semua anak karyawan diundang dan diajak dalam kegiatan outbound. Yoga pun tak ketinggalan.

“Selama kegiatan outbound berlangsung, saya bisa melihat wajah miris anak saya. Mungkin dia tak suka permainan itu, atau mungkin karena dia seorang anak yang manja. Saya pikir anak saya harus belajar tentang itu,” beber Agus.

Menurut pengakuan Yoga, dia sangat ketakutan ketika mengikuti permainan dalam kegiatan outbound. Katanya, tak ada yang bisa menolong dirinya, kecuali dirinya sendiri. Yoga juga mempelajari banyak hal dalam outbound. Dia memahami arti seorang kawan, termasuk juga memahami tentang keberanian.

“Waktu naik flying fox, saya takut sekali. Saya jadi malu, karena melihat anak perempuan kecil, malah berani meluncur dari atas ketinggian itu. Kalau dia bisa, kok saya tidak bisa,” ujarnya.

Agus bersyukur, apa yang diharapkannya menjadi kenyataan. Kini, Yoga berubah menjadi anak yang setia kawan. Malah kata Agus, Yoga berharap bisa mengikuti kegiatan outbound lagi.

Merian (5) lain lagi. Sejak pertama kali mengikuti kegiatan outbound, bocah perempuan ini sudah tertarik pada dunia air. Kebetulan dalam kegiatan outbound, ada sebuah permainan bernama fish games (permainan menangkap ikan). Merian langsung memasuki kolam, berusaha mengejar ikan yang berenang. Merian sempat terjatuh beberapa kali, karena tubuh ikan yang licin, sigap melepaskan diri dari pegangan Merian.

Nita (35), ibunya bilang, begitulah Merian. Dia tak mau menyerah sebelum mendapati apa yang dimauinya. Biasanya kalau sudah menyerah, anak pertama ini akan menangis dan berlari kepada ibunya.

“Saya senang melihat anak saya seperti itu. Lihat saja semangatnya. Malah boleh dibilang, ini termasuk lama dia bertahan. Biasanya dia sudah menangis loh,” ungkapnya. Menurut Nita, fish games ini mengajarkan anak mengenai dunia air, mengenai ikan dan melatih kesabaran anak terhadap sesuatu.

Masih Ada Pramuka

Terlepas dari itu Kepala Sekolah SD Negeri 55, Jalan SM Raja Medan Amplas, Hotniar Lubis mengungkapkan, prinsip dan nilai-nilai termuat dalam outbound sebetulnya tak jauh berbeda dengan prinsip yang diemban dalam pramuka. Secara pribadi, Hotniar pun bingung, mengapa outbound seolah-olah seperti sesuatu yang baru. Padahal apa yang dimiliki outbound pun, dipelajari di dalam pramuka.

“Sayang, namanya memang tidak segaul outbound,” sahutnya. Begitupun, menurut Hotniar, saat ini sudah banyak sekolah-sekolah dasar yang melakukan kegiatan outbound. Bahkan, beberapa sekolah tingkat anak-anak pun melakukan outbound sebagai satu kegiatan rutin sekolah.

Sah-sah saja,sambungnya, outbound merupakan kegiatan positif. Sama dengan pramuka juga kan? Justru menurut Hotniar, yang penting bagaimana menggalakkan pramuka kembali dalam sekolah.

“Masih ada pramuka loh, jangan lupakan itu,” pungkasnya.

Sementara di SMP Darussalam Medan, sudah tiga tahun dilaksanakan outbound untuk pengurus OSIS. Kepala SMP Darussalam Medan, Ariadi AEF menambahkan, outbound yang dilakukan untuk membentuk suatu pengurus OSIS yang benar-benar bisa bekerjasama dalam tim.

Lokasi outbound, katanya bebas dan pelatihnya dari guru dan luar. Meskipun di sekolah ada pramuka, dan ekstrakurikuler lainnya tapi outbound penting demi untuk melatih kerjasama tim dan kepribadian siswa ke depannya. “Orangtua dan yayasan setuju dengan outbound ini karena benar-benar memiliki manfaat dimana ada perbedaan siswa setelah mengikuti kegiatan ini. Sedangkan pengurus menjadikan mereka bertanggungjawab dalam berorganisasi,” katanya.

Dia melihat, banyak siswa yang tadinya tidak berani, minder dan grogi. Kini sudah berbeda, malah mereka kini berani ngomon di depan umum.


0 Responses to “Takut Jadi Berani, Keras Kepala Jadi Setia Kawan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: